Transmisi pada motor matic adalah transmisi tanpa perpindahan roda gigi, jadi menggunakan pulley dan belt. Istilah Kerennya CVT (Continue Variable Transmision)
CVT (Continue Variable Transmision) adalah suatu sistem penyalur tenaga secara otomatis dengan bantuan gaya sentrifugal(gaya dorong yang disebabkan oleh putaran).
Saat putaran bawah (stationer) diameter yang dibentuk puley primer (drive pulley*) lebih kecil dibanding puley sekunder (driven pulley**) sehingga terjadi ratio yang ringan.
Saat putaran menengah diameter puley primer membentuk lingkaran yang sama besar dengan puley sekunder.
hal ini terjadi karena gaya sentrifugal menyebabkan kedua dinding puley primer semakin sempit.
Prosis ini akan terus berlanjut seiring putaran mesin yang semakin meningkat sehingga saat putaran atas diameter yang dibentuk puley primer lebih besar daripada puley sekunder.
* drive pulley = Pulley yang terhubung dengan crankshaft (mesinnya)
** driven pulley = Pulley yang terhubung ke roda motor
Sebenarnya, dasar pemikiran CVT berasal dari sepeda.
Pada sistem percepatan sepeda, apabila gear di bagian depan kecil dan gear yang dibelakang besar, maka sepeda akan berjalan lambat.
Seperti gigi 1 pada kendaraan, begitu juga sebaliknya.
Nah, sistem ini lah yang di adopsi oleh CVT.
Namun, bedanya CVT menggunakan sabuk yang sangat kuat dan gear diganti dengan pulley yang bisa membesar dan mengecil tergantung dengan gaya sentrifugal yang diterima pulley.
Keuntungan CVT:
1.Bisa mendongkrak performa mesin / mobil secara keseluruhan karena dengan rasio “gigi” tak terbatas maka akan selalu pada “rasio gigi yang tepat” sehingga tenaga tetap terjamin optimal.
2.Dengan rasio gigi tidak terbatas, maka akan terasa nyaman untuk cruising, sehingga bisa lebih irit dan mengurangi emisi gas buang. Bayangkan kalau anda ke luar kota dan di jalan tol dengan kecepatan konstant, lebih irit bukan.
kelemahan CVT:
Tranmisi CVT ini kurang responsive kalau mau dipakai secara agresive, karena akan berkesan “lemot”, dan kalau di gas terlalu cepat (power surge) maka kemungkinan selipnya lebih tinggi daripada otomatis biasa.
Tampilkan postingan dengan label GIGI RASIO MATIC. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label GIGI RASIO MATIC. Tampilkan semua postingan
Kamis, 25 Agustus 2011
TRANSMISI PADA MOTOR MATIC
Rabu, 24 Agustus 2011
Perawatan Girboks Skubek, Mudah Kok!
Tempo penggantian oli girboks terlalu lama menyebabkan pemilik skubek terbuai. Terbuai suasana malas melakukan perawatan komponen satu ini, hingga menyebabkan risiko fatal. Apa aja coba..?
“Jika volume oli kurang, part mudah terkikis. Kalau sudah aus, pertemuan antar gigi rasio jadi rengang. Di dalam girboks terdengar suara dengung meski volume oli pas,” urai Mustain, kepala instruktur kursus mekanik Hartomo Mechanical Training Centre (HMTC) Jakarta.
Lain hal jika oli habis atau kering karena ada bagian yang bocor atau terlalu lama tidak diperiksa. Ya.., karena terbawa suasana tadi. Risikonya, gir rasio bisa saja terkunci atau nyeket bahasa anak bengkelnya.
“Oli girboks kurang bikin gir berikut as bekerja lebih keras. Akibatnya laher oblak dan bikin karet sil di as roda dan rumah CVT rawan robek. Akhirnya banyak komponen yang mesti diperbaiki,” imbuh Pak Mus dari Jl. Sawo Raya No. 9A, Rawamangun, Jakarta Timur.
Padahal syarat bikin girboks tetap prima caranya mudah. Kata Pak Mus, yang perlu diingat batas waktu pengantian oli girboks digandeng perawatan berkala macam ganti oli mesin. "Saat lakukan pengantian oli mesin ke-4 (tiap 2.000 km) atau setelah masa pakai mencapai 8.000 km di odometer. Saat itu juga oli girboks ganti baru pakai oli spesifikasi SAE 10W," imbuhnya.
Untuk gantinya, buka baut 12 pembuangan di bawah. Dan tutup atas sebagai tempat pengisian, agar semua oli terkuras habis. “Kalau cuma ganti, volume oli yang dimasukkan sekitar 100 cc. Tapi, kalau dikuras hingga kering, baiknya ditambah sekitar 20 cc lagi,” pesan Mus yang bisa ditelepon di nomor (021)4891176.
Ingat, jangan biasakan isi oli girboks melebihi batas yang sudah ditentukan. Sebab tekanan di dalam ruang giboks makin tinggi hingga menyebabkan karet sil gampang jebol. (motorplus-online.com)
Penulis : KR15 | Teks Editor : Nurfil | Fotografer : KR15
Usir suara berisik gir rasio Mio
Gambar 1
Gbr 1
Gambar 2
Gbr 2
Gambar 3
Gbr 3
Gambar 4
Gbr 4
Kisah itu dialami Edi Sumaryo warga Cipondoh, Tangerang, Banten. "Iya waktu saya sedang enak jalan sama istri dan anak, tiba-tiba ada suara dari dalam CVT.
Bukan suara knalpot, tapi bunyinya setiap di atas kecepatan 60 km/jam," kata pria berambut putih ini.
Nah, gara-gara masalah itu Edi dan keluarganya batal JJS. Wah, kacau deh! Tapi biar enggak nyusahin terus, Yamaha Mio 115 cc keluaran 2008 itu digelandang ke bengkel Bonano Fiananda (BO) di Jl. KH. Maulana Hasanudin, Porisgaga Batu Ceper, Tangerang, Banten.
Di BO Edi bertemu Muhammad Nurdiansyah, mekanik BO. Dia menceritakan yang dialami pada besutannya.
Setelah Edi curhat sama pria ramah yang biasa disapa Aan itu, skutik yang katanya market leader itu pun langsung dibongkar.
Gambar 5
Gbr 5
Gambar 6
Gbr 6
Setelah dicek and ricek, ternyata pemicu suara yang keluar dari dalam CVT adalah gigi rasio (gbr.1). "Memang kalo gigi rasio itu renggang antara primer dan skunder akan menimbulkan bunyi (gbr.2).
Karena antara gigi rasio dan primer terdapat satu ring besar, jadi kalau enggak rapat ring itu akan bergetar. Makanya kalo motor dalam keadaan kencang jangan direm mendadak, itu bisa membuat gigi rasio jadi abis alias ompong," jelas Aan.
Biar gak beli baru, solusinya dipres dan dilas kuningan. Penasaran kan, apa yang dilakukan Aan. Yuk kita lihat. Sebelum dibongkar, siapkan dulu perkakas yang diperlukan; T-8, tracker, kunci sok ukuran 24 dan kunci L-5.
Gambar 7
Gbr 7
Pertama buka 22 baut yang mengunci di bak CVT menggunakan kunci T-8 (gbr.3). Lalu lepas kopling sentrifugal dengan kunci sok 24 (gbr.4). "Jangan lupa pakai tracker biar gampang buka sentrifugalnya," tambahnya.
Setelah itu copot baut L penutup rasio sebanyak lima buah pakai kunci L-5 (gbr.5). Kalau sudah buka, rasionya dipres menggunakan alat catokan pres (gbr.6). "Biar rasio itu gak kambuh lagi maka harus dilas kuningan (gbr.7)," bilang pria ini sambil tersenyum.
Buat biayanya, cukup bayar Rp 50 ribu. "Itu sudah berikut ongkos pasang, lo," ucapnya. Hasilnya, skutik Edi sudah enggak 'sakit' lagi, deh.
Sumber :Penulis/Foto: Jotos / Jotos - otomotifnet.com
Langganan:
Postingan (Atom)